Pemain:
-Enie
-Anisyah
-Anggrainie
-Fahmia
-Yuanie
-Dwita
Hirup-tikup kehidupan remaja sering terjadi pertikaian diantara sesama.
Begitulah yang dialami oleh dua kelompok remaja murid SMA Negeri 2
Krangjati ini. Kelompok Sehat (Fahmia, Yuanie dan Dwita) mereka bertiga
adalah sahabat sejati yang selalu bersama dalam suka dan duka. Ketiga
orang ini baik, pintar dan ramah. Tidak seperti kelompok evil atau nama
gengnya trio evil. Mereka bertiga sangat keras, kejam dan tidak
memiliki rasa keprimanusiaan.
Pada suatu hari Dikantin
Fahmia, Yuanie dan Dwita sedang berada di kantin. Mereka sedang makan
sambil bercerita. Tiba-tiba datanglah trio evil yang menyambar
pembicaraan mereka.
Enie : Hello, kalian ! ngapain kalian disini ! (memukul meja)
Anisyah : Ini tuh tempat khusus buat kita ! jadi loh mendingan cabut sana !
Anggraenie : Bener tuh ! Loe, Loe dan Loe out! (menunjuk ke Fahmia, Yuanie dan Dwita)
Fahmia : Apa hak kalian mengusir kami. Lagian inikan tempat umum. Bukan tempat bokap kalian !
Anisyah : Eeeh. Eeeh. Nih anak sudah mulai melawan yah ! Apa perlu saya panggilkan satpam untuk ngusir kalian!
Yuanie : Yah silahkan saja panggil satpam. Kalian pikir kami takut dengan kalian.
Enie : Kurang ajar kalian (hampir menampar Yuanie, tapi tiba-tiba Dwita berbicara)
Dwita : Hey jangan. Sudahlah, Biar kami saja yang mengalah. Ayo kita pergi dari sini.
Fahmia, Yuanie dan Dwita pun pergi meninggalkan kantin.
Anggraenie : Akhirnya mereka pergi juga. Hahaha
Tidak lama kemudian bel pun berbunyi. Semua murid mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang.
Seperti biasanya grup Sehat sering mengerjakan tugas di rumah Fahmia.
Jadi tiap sore Yuanie dan Dwita datang kerumah Fahmia. Orangtua mereka
pun sudah saling mengenal satu sama lain.
Sore, dirumah Fahmia
Yuanie+Dwita : Assalamualaikum (mengetuk-ngetuk pintu)
Fahmia : Waalaikumsalam (membuka pintu) silahkan masuk tuan putri
(sambil mengulurkan tangannya kebawah)(sedang bercanda untuk menghibur
mereka)
Fahmia+Yuanie+Dwita : hehehehehe
Mereka bertiga menuju ke ruang tamu. Tempat dimana mereka sering
mengerjakan tugas sambil berbagi cerita. Kali ini tugas yang dikerjakan
adalah tugas bahasa indonesia yaitu membuat proposal. Mereka lalu
mengeluarkan buku dari tas. Tapi kali ini mereka tidak bisa
menyelesaikannya karena ada keributan di samping rumah Fahmia. Entah
mengapa orang itu sangat ribut. Mungkin ada masalah di keluarga mereka.
Yuanie : Aduh, berisik amat! Mana bisa kita selesaikan tugas ini kalau situasinya begini.
Dwita : Tetanggamu kenapa sih? Kok heboh amat!
Fahmia : Aku juga nga tau nih. Nga biasa-biasanya mereka ribut seperti ini.
Mereka bertiga keluar rumah untuk melihat situasi. Ternyata keributan
itu datang pada rumah Anisyah. Diluar rumah Anisyah ada kelompok trio
evil yang sedang kebingungan. Kelompok Sehat pun menuju ke rumah
Anisyah.
Fahmia : Anisyah, ada apa dengan kamu?
(Anisyah hanya nangis dan merunduk)
Enie : Ngapain loh kesini! Sudah pulang sana, mengganggu aja!
Anggraenie : Loh kok masih disini. Kalian budek ya! Kami bilang pergi dari sini ! ( dengan suara yang kejam)
Anisyah : Sudahlah, jangan husir mereka. Mereka kan teman kita juga.
Enie : Kamu kenapasih Anisyah? Kenapa mesti lo bela mereka?
Anggraenie : Anisyah, kamu habis kesambet batu yah ?
Anisyah : Sudahlah, hentikan semua kebodohan ini.
Enie : Maksudloh apasih? Gue nga mengerti dengan semua ini!
Anggraenie : Baiklah kalo ini mau kamu. Kami akan menurutinya.
Yuanie : Kok kamu sedih sih Anisyah? Emengnya ada apa?
Anisyah : Aku tidak habis pikir. Kenapa sih orangtuaku selalunya bertengkar. Apa mereka tidak lelah dengan semua ini?
Dwita : Kamu yang sabar yah Anisyah.
Anisyah : Tapi aku sudah benar-benar tidak tahan lagi. Hampir
setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar.
Fahmia : Mungkin memang saat ini bapak dan ibumu sedang ada
masalah. Berdoa sajalah, semoga masalah mereka segera bisa diatasi.
Enie : Kami pun akan turut berdoa agar orangtuamu tidak bertengkar lagi.
Anisyah : Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai.
Seandainya mereka benar-benar bercerai, aku harus ikut siapa? aku malu,
malu dan sangat malu sekali teman-teman.
Anggraenie : Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga
jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih
nanti malah akan mempengaruhi fisikmu.
Fahmia : Iya Anisyah. Semua ini pasti ada jalan keluarnya kok.
Anisyah : Ah biarlah, seandainya aku sakit, mungkin orang tuaku tidak peduli sama sekali.
Yuanie : Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya.
Dwita : Mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi mereka terlihat sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Anisyah : Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya
bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah
pasti mendengar suara mereka bertengkar?
Fahmia : tapikan biar bagaimana pun juga dia tetap orangtuamu.
Anisyah : Saya harus bagaimana (sambil menunduk dan menangis)
Enie : sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar.
Anisyah : akan saya coba
Anggraenie : Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo donk tersenyum lagi (sambil mengusap air mata Anisyah)
Anisyah : terimakasih yah. Kalian sudah ingin menjadi temanku. Dan
memberiku semangat dengan cobaan ini. Aku sayang kalian semua.
Fahmia : kami juga sayang kok sama kamu.
Mereka semua lalu berpelukan.
Jumat, 13 Maret 2015
6 Sahabat
Diposting oleh
Unknown
di
06.55
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Saling Membantu
Tema : Persahabatan, Sekolah, Kehidupan
Aliran : Bahasa Indonesia
Jumlah Karakter : 7 Orang (Tra, Lala, Tri, Lili, Pak Darmo, Kepala Sekolah, Fauzia)
Pagi hari di sekolah didalam kelas ada 3 orang anak murid yang sedang berbincang-bincang. Anak-anak ini mempunyai geng yang bernama tralalatrilili yang anggotanya ada 4 orang. Yaitu Tra, Lala, Tri, Lili. Maka dari itu mereka menamakan gengnya itu “Tralalatrilili”
Tra : (Ceria) ”Pagi Sobat....!!”
Lala : , Tri : “Pagi Tra...”
Tra : “Ngomong-ngomong kayanya ada yang kurang deh !”
Lala : “Iya, yah...”
Tri : “ya, iyalah ada yang kurang. Orang Lili belum datang.”
Tra : “Oh... Iya Lili. Pantas saja sepi banget biasanyakan dia yang paling bawel ...!”
Tiba-tiba Lili datang, dengan wajah termenung tanpa senyum. Sedikitpun Langsung duduk ditempat duduknya.
Lala : “Tumben banget nona bawel baru datang ?”
Tri : “ Iya nih kesiangan ya ?”
Lili : “Iya... (sambil termenung)”
Tra : “Kamu kenapa Li ? Gak biasanya kamu seperti ini ? biasanya kamu pagi-pagi udah buat kita bertiga ketawa.”
Lala : “Iya nih ! kamu sakit Li, kayanya kamu lesu banget.”
Tri : “Tau nih ditanya aku aja jawabannya singkat banget.”
Lili : “Gak kok.... Teman aku gak kenapa-napa cuma lagi malas ngomong aja....”
Tra : “Ya udah Li kalau memang kamu gak kenapa-napa kita Cuma takut auja kalau kamu lagi ada masalah atau kamu sedang sakit tapi gak mau cerita.”
Lili : “Ya... pokoknya aku gak kenapa-napa. Kalian gak usah takut.
(Bel masuk pun berbunyi)
Pak Darmo pun masuk ke dalam kelas karena pada hari ini jam mengajar Pak Darmo dikelas ini. Ia ini salah satu guru yang aneh di sekolah.
Pak Darmo : “Pagi.... anak-anak ?”
Anak-anak : (Menjawab Serentak) “PAGI...”
Pak Darmo : “Baik pada hari ini kita akan melanjutkan materi yang minggu lalu Bapak berikan, sebelumnya kumpulkan tugas kalian !!”
Anak-anak : “IYA PAK”
Lili : “Pak buku tugas saya tertinggal dirumah !”
Pak Darmo : “ TERTINGGAL... ? kamu tidak membawa tugasnya, apa tidak membuatnya ?”
Lili : “Saya tidak membawanya pak. Sungguh, saya tidak berbohong.”
Pak Darmo : “Ya sudah kalau begitu kamu tidak dapat nilai seperti teman-teman kamu...!”
Tri : (berbisik-bisik) Li... kamu gak bawa tugasnya ? Gak biasanya kamu kaya gini.....
Lili : “Iya tri aku lupa. Semalam aku tidur malam banget !!! Jadi aku lupa memasukan kedalam tasku.”
Pak Darmo : Bapak akan berikan selembaran kertas yang isiunya materi-materi penting untuk kalian pelajari..”
Pak Darmo membagikan kertas lembaran itu, anak-anak pun membacanya dan memahaminya. Lalu ia memeriksa tugas yang dikumpulkan tadi.
Tiba-tiba bapak kepala sekolah datang dan masuk kedalam kelas.
Kepala Sekolah : “Permisi Pak Darmo... Saya minta waktu sebentar.”
Pak Darmo : “Silahkan bapak kepala sekolah !!! Memang jam mengajar saya juga sudah habis.”
Kepala Sekolah : “Anak-anak maaf bapak mengganggu kalian belajar. Sebentar, bapak kesini mau memanggil anak yang bernama Lili. Yang bernama Lili acungkan tangan.”
Lili : (Mengancungkan Tangan) “SAYA PAK !”
Kepala Sekolah : “Ikut keruang bapak sebentar ada y7ang bapak mau bicarakan !”
Lili : “Baik Pak.”
Sampainya diruang Bapak Kepala Sekolah, Lili duduk tegang di handapan bapak kepala sekolah.
Lili : “ Ada apa ya pak sampaui saya di panggil keruang bapak ?”
Kepala Sekolah : “Begini, apa benar kamu sudah menunggak SPP 3 bulan ?”
Lili : “Iya pak memang saya belum membayar uang spp selama 3 bulan.”
Kepala Sekolah : “Kenapa ? kamu sampai menunggak 3 bulan apa sebenarnya kamu di kasih uangnya sama orang tua kamu cuma pakai ?”
Lili : “Tidak pak memang saya belum dikasih uangnnya sama orang tua saya karna orang tua saya belum punya uang.”
Kepala Sekolah : “Ya sudah, kalau begitu.... bapak sarankan kekamu secepatnya kamu lunasi karena sebentar lagi kamu akan UAN.
Lili : “Baik pak. Secepatnya saya akan melunasinya.”
Kepala Sekolah : “Iya... Kembalilah kekelasmu!”
Lili : “Terima kasih pak. Permisi !”
Akhirnya Lili kembali kekelas. Didalam kelas, Tra, Lala, dan Tri sedang asik mengobrol.
Lala : “Li, Bapak Kepala Sekolah ngomong apa sam kamu ? ada masalah ya ?
Lili terpaksa berbohong dengan sahabat-sahabatnya karena dia tidak mau sahabtanya jadi tahu masalah dia dan ikut kedalam masalahnya.
Lili : “Gak kok ! Gak ada masalah apa-apa cumangobrol masalah perpisahan aja..... aku kan ketua panitia.”
Lala : “Oh... dikira kau kenapa ?”
Tra : “Teman, tar pulang sekolah antar aku ya ke toko buku ? Soalnya aku mau beli novel-novel terbaru sekalian kita shopping.
Lala,Tri : “IYAA !!”
Tra : “Li kok kamu diam, apa kamu gak mau ikut ?”
Lili : “Iya Tra kayanya aku gak ikut soalnyakan kamu tahu sendiri ayahku lagi sakit. Belum Sembuh, jadi aku harus membantu ibu menjaga ayah.”
Tra : “Ya... sudah kalau begitu !
Bel Istirahat berbunyi
Tra : “Sudah istirahat, kita kekantin yuk.. Laper nih !!”
Lala, Tri : “Yuk.... kita juga laper!”
Lili : “Teman, aku gak ikut ya soalnya aku gak laper dan lagi males kekantin. Kalian saja ya.... ?”
Tra, Lala, Tri : “Ya sudah kalau kamu gak mau ikut. Kita ke kantin dulu ya ?”
Lili Terpaksa harus berbohong lagi padahal dia bukan tidak lapar tapi tidak mempunyai uang dan tiba-tiba tersirat di pikiran Lili untuk mengambil uang Tra yang ada didalam tas. Uang itu akan digunakan Tra untuk membeli Novel dan Shopping nanti sepulang sekolah.
Lili : “Aku bingung nih harus membayar SPP tapi gak punya uang. Minta sama ibu kan ibu lagi gak punya habis untuk ayah kerumah sakit. Apa aku ambil saja uang Tra yang katanya mau dibeluikan novel dan shopping pasti uangnya cukup ! Tapi kan dia sahabat aku sendiri. Maafin aku ya Tra. Gak ada jalan lain ... Karena aku harus secepatnya melunasi uang SPP.”
Tanpa Lili Sadari ada yang melihat kelakuannnya itu yaitu Fauzia dia ank kelas itu juga. Fauzia tidak sengaja mengintip Luili di pintu kelas.
Fauzia : “Apa yang dilakukan Lili itu kan tasnya Tra kok dia mengambil uangnya ?”
Fauzia pun langsung kedalam kelas dan pura-pira tidak tahu. Bel Masuk kelas pun berbunyi . Tra, Lala, dan Tri masuk kedalam kelas.
Tri : “Sedang apa kamu Li ?”
Lili : “Aku lagi baca buku saja.”
Lala : “kamu istirahat Cuma dikelas aja ? gak bosen Li ?”
Lili : “Gak, aku kan sudah bilang aku males.”
Tra : “Udah... kok jadi dipermasalahin sih.. ?!”
Tra belum menyadari kalau uangnnya hilang. Setelah dia membuka tasnya dan melihat dompetnya terbuka dia langsung kaget karena uangnya hilang.....
Tra : “Teman, uang aku hilang semua !”
Lala, Tri : “HILANG ?!?”
Tri : “Kamu lupa kali Tra. Coba cari Lagi.”
Tra : “Aku gak lupa tadi aku simpan disini uangnya. Kemana ya ?”
Lala : “Apa ada yang MENCURI uang kamu Tra !!?”
Tra : “Bisa jadi, kalau tidak ada yang mencuri gak mungkin uang aku hilang.”
Tri : “Siapa yang mencuri ya kok tega banget sih !!?”
Tra : “LI... ! Kok kamu diam saja sih ? Bantuan aku donk ! uang aku hilang nih !!
Lili : “Bukan Aku Tra yang mencuri !!”
Tra : “Siapa yang bilang kamu yang mencuri. Aku kan Cuma minta dibantuin cari.”
Tri : “Li.... kok kamu ngomong gitu ? bukannya aku nuduh kamu ya dari tadikan Cuma kamu yang ada dikelas ini sampai istirahat selesai.”
Lili : “Tapi bukan aku Tri yang ngambil uang Tra. Benar bukan. Aku kan sahabat Tra dan Kalian.”
Lala : (Jutek) “Biarpun kamu sahabat kita mungkin ajakan. Ya udah biar kita gak salah nuduh kita periksa tas kamu, Cuma membuktikan saja.”
Lili : “Jangan kumohon JANGAN !! Bukan aku yang ambil.”
Tiba-tiba Fauzia bicara dengan mereka.
Fauzia : “Hei... Sebelumnya aku minta maaf kalau aku ikut campur urusan kalian. Aku Cuma mau bilang tadi aku lihat Lili membuka tas kamu Tra dan mengambil sesuatu sepertinya ya.... UANG.”
Tra : “Kamu gak bohong kan Fauzia ?”
Fauzia : “Iya aku gak bohong aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Maafin aku Li, aku gak mau menutupi kejahatan. Jadi, aku ngomong apa yang aku lihat tadi.”
Lili : ”Fauzia.... aku sama sekali gak tau kalau tadi kamu melihat apa yang aku lakukan. Tra, memang aku yang mengambil uang kamu. Fauzia benar. Tapi aku terpaksa Tra !!! Aku bukan bermaksud Jahat.”
Tra : “Jadi... kamu Li yang ambil uang aku ! Ya ampun Li.... Aku gak nyangka banget !!! Kamu terpaksa kenapa ???”
Lili : “Aku terpaksa karna aku belum bayar uang SPP 3 bulan. Orang tua ku gak punya uang kan kamu tahu sendiri ayahku sedang sakit.”
Tra : “Tapi kamu gak harus seperti ini Li....”
Lala : “Iya Li kenapa kamu gak jujur ada sama kita. Kalau kamu jujur kita pasti akan bantu kamu.
Tri : “Bener banget !!! Jadi kamu dari tadi pagi sudah berbohong kamu bilang kamu lagi males aja ternyata kamu ada masalah ?”
Lili : “Tra, Lala, Lili aku menyesal udah gak jujur sama kalian. Aku seperti ini karna aku gak mau menyusahkan kalian terus. Aku minta maaf sama kalian. Terutama Tra.”
Tra : “Aku maafin kamu Li. Karena aku tahu kamu dalam keadaan terdesak melakukan semua ini.”
Lili : “Kamu memang sahabat aku yang paling baik Tra, aku sangat menyesal sekali.”
Lala : “Bagaimanapun seseorang sahabat dia tetap menjadi seorang sahabat !
Tri : “Kamu salah La... diralat ya ? Bagaimanapun kesalahan seorang sahabat kita harus memaafkannya karena manusia pasti membuat kesalahan dan tidak selalu benar. Jadi kita harus tetqap jadi sahabat sejati.”
Lili : “Makasih ya sahabat-sahabat ku kalian memang sahabat yang paling baik dan yang paling aku sayang . Makasih kalian sudah mau maafin aku dan masih mau jadi sahabat aku .
Tra, Lala, Tri : “IYA DONK HARUS !!!”
Tra : “ya udah Li Uangku untuk kamu saja karena aku tahu kamu sangat m embutuhkannnya daripada aku.”
Lili : “Benar Tra ? Makasih sekali lagi aki ucapkan untuk kamu sampai kapan pun juga aku gak akan melupakan kebaikan kamu.”
Tra : “Iya.... Li. Kamu makasih juga donk sama fauzia karena dia sudah buat kejujuran untuk kamu.”
Lili : “Fauzia, terima kasih ya... ? Atas kejujuran kamu !”
Fauzia : “Iya Li sama-sama.”
Tra : “Ya sudah kalau seperti ini kan jadinya enak. Tralalatrilili tidak hancur. Tra...”
Lala : “lala.....”
Tri : “Tri.....”
Lili : “lili.....”
Tralalatrilili : “YEEEEEEEEE.......”
TAMAT
Aliran : Bahasa Indonesia
Jumlah Karakter : 7 Orang (Tra, Lala, Tri, Lili, Pak Darmo, Kepala Sekolah, Fauzia)
Pagi hari di sekolah didalam kelas ada 3 orang anak murid yang sedang berbincang-bincang. Anak-anak ini mempunyai geng yang bernama tralalatrilili yang anggotanya ada 4 orang. Yaitu Tra, Lala, Tri, Lili. Maka dari itu mereka menamakan gengnya itu “Tralalatrilili”
Tra : (Ceria) ”Pagi Sobat....!!”
Lala : , Tri : “Pagi Tra...”
Tra : “Ngomong-ngomong kayanya ada yang kurang deh !”
Lala : “Iya, yah...”
Tri : “ya, iyalah ada yang kurang. Orang Lili belum datang.”
Tra : “Oh... Iya Lili. Pantas saja sepi banget biasanyakan dia yang paling bawel ...!”
Tiba-tiba Lili datang, dengan wajah termenung tanpa senyum. Sedikitpun Langsung duduk ditempat duduknya.
Lala : “Tumben banget nona bawel baru datang ?”
Tri : “ Iya nih kesiangan ya ?”
Lili : “Iya... (sambil termenung)”
Tra : “Kamu kenapa Li ? Gak biasanya kamu seperti ini ? biasanya kamu pagi-pagi udah buat kita bertiga ketawa.”
Lala : “Iya nih ! kamu sakit Li, kayanya kamu lesu banget.”
Tri : “Tau nih ditanya aku aja jawabannya singkat banget.”
Lili : “Gak kok.... Teman aku gak kenapa-napa cuma lagi malas ngomong aja....”
Tra : “Ya udah Li kalau memang kamu gak kenapa-napa kita Cuma takut auja kalau kamu lagi ada masalah atau kamu sedang sakit tapi gak mau cerita.”
Lili : “Ya... pokoknya aku gak kenapa-napa. Kalian gak usah takut.
(Bel masuk pun berbunyi)
Pak Darmo pun masuk ke dalam kelas karena pada hari ini jam mengajar Pak Darmo dikelas ini. Ia ini salah satu guru yang aneh di sekolah.
Pak Darmo : “Pagi.... anak-anak ?”
Anak-anak : (Menjawab Serentak) “PAGI...”
Pak Darmo : “Baik pada hari ini kita akan melanjutkan materi yang minggu lalu Bapak berikan, sebelumnya kumpulkan tugas kalian !!”
Anak-anak : “IYA PAK”
Lili : “Pak buku tugas saya tertinggal dirumah !”
Pak Darmo : “ TERTINGGAL... ? kamu tidak membawa tugasnya, apa tidak membuatnya ?”
Lili : “Saya tidak membawanya pak. Sungguh, saya tidak berbohong.”
Pak Darmo : “Ya sudah kalau begitu kamu tidak dapat nilai seperti teman-teman kamu...!”
Tri : (berbisik-bisik) Li... kamu gak bawa tugasnya ? Gak biasanya kamu kaya gini.....
Lili : “Iya tri aku lupa. Semalam aku tidur malam banget !!! Jadi aku lupa memasukan kedalam tasku.”
Pak Darmo : Bapak akan berikan selembaran kertas yang isiunya materi-materi penting untuk kalian pelajari..”
Pak Darmo membagikan kertas lembaran itu, anak-anak pun membacanya dan memahaminya. Lalu ia memeriksa tugas yang dikumpulkan tadi.
Tiba-tiba bapak kepala sekolah datang dan masuk kedalam kelas.
Kepala Sekolah : “Permisi Pak Darmo... Saya minta waktu sebentar.”
Pak Darmo : “Silahkan bapak kepala sekolah !!! Memang jam mengajar saya juga sudah habis.”
Kepala Sekolah : “Anak-anak maaf bapak mengganggu kalian belajar. Sebentar, bapak kesini mau memanggil anak yang bernama Lili. Yang bernama Lili acungkan tangan.”
Lili : (Mengancungkan Tangan) “SAYA PAK !”
Kepala Sekolah : “Ikut keruang bapak sebentar ada y7ang bapak mau bicarakan !”
Lili : “Baik Pak.”
Sampainya diruang Bapak Kepala Sekolah, Lili duduk tegang di handapan bapak kepala sekolah.
Lili : “ Ada apa ya pak sampaui saya di panggil keruang bapak ?”
Kepala Sekolah : “Begini, apa benar kamu sudah menunggak SPP 3 bulan ?”
Lili : “Iya pak memang saya belum membayar uang spp selama 3 bulan.”
Kepala Sekolah : “Kenapa ? kamu sampai menunggak 3 bulan apa sebenarnya kamu di kasih uangnya sama orang tua kamu cuma pakai ?”
Lili : “Tidak pak memang saya belum dikasih uangnnya sama orang tua saya karna orang tua saya belum punya uang.”
Kepala Sekolah : “Ya sudah, kalau begitu.... bapak sarankan kekamu secepatnya kamu lunasi karena sebentar lagi kamu akan UAN.
Lili : “Baik pak. Secepatnya saya akan melunasinya.”
Kepala Sekolah : “Iya... Kembalilah kekelasmu!”
Lili : “Terima kasih pak. Permisi !”
Akhirnya Lili kembali kekelas. Didalam kelas, Tra, Lala, dan Tri sedang asik mengobrol.
Lala : “Li, Bapak Kepala Sekolah ngomong apa sam kamu ? ada masalah ya ?
Lili terpaksa berbohong dengan sahabat-sahabatnya karena dia tidak mau sahabtanya jadi tahu masalah dia dan ikut kedalam masalahnya.
Lili : “Gak kok ! Gak ada masalah apa-apa cumangobrol masalah perpisahan aja..... aku kan ketua panitia.”
Lala : “Oh... dikira kau kenapa ?”
Tra : “Teman, tar pulang sekolah antar aku ya ke toko buku ? Soalnya aku mau beli novel-novel terbaru sekalian kita shopping.
Lala,Tri : “IYAA !!”
Tra : “Li kok kamu diam, apa kamu gak mau ikut ?”
Lili : “Iya Tra kayanya aku gak ikut soalnyakan kamu tahu sendiri ayahku lagi sakit. Belum Sembuh, jadi aku harus membantu ibu menjaga ayah.”
Tra : “Ya... sudah kalau begitu !
Bel Istirahat berbunyi
Tra : “Sudah istirahat, kita kekantin yuk.. Laper nih !!”
Lala, Tri : “Yuk.... kita juga laper!”
Lili : “Teman, aku gak ikut ya soalnya aku gak laper dan lagi males kekantin. Kalian saja ya.... ?”
Tra, Lala, Tri : “Ya sudah kalau kamu gak mau ikut. Kita ke kantin dulu ya ?”
Lili Terpaksa harus berbohong lagi padahal dia bukan tidak lapar tapi tidak mempunyai uang dan tiba-tiba tersirat di pikiran Lili untuk mengambil uang Tra yang ada didalam tas. Uang itu akan digunakan Tra untuk membeli Novel dan Shopping nanti sepulang sekolah.
Lili : “Aku bingung nih harus membayar SPP tapi gak punya uang. Minta sama ibu kan ibu lagi gak punya habis untuk ayah kerumah sakit. Apa aku ambil saja uang Tra yang katanya mau dibeluikan novel dan shopping pasti uangnya cukup ! Tapi kan dia sahabat aku sendiri. Maafin aku ya Tra. Gak ada jalan lain ... Karena aku harus secepatnya melunasi uang SPP.”
Tanpa Lili Sadari ada yang melihat kelakuannnya itu yaitu Fauzia dia ank kelas itu juga. Fauzia tidak sengaja mengintip Luili di pintu kelas.
Fauzia : “Apa yang dilakukan Lili itu kan tasnya Tra kok dia mengambil uangnya ?”
Fauzia pun langsung kedalam kelas dan pura-pira tidak tahu. Bel Masuk kelas pun berbunyi . Tra, Lala, dan Tri masuk kedalam kelas.
Tri : “Sedang apa kamu Li ?”
Lili : “Aku lagi baca buku saja.”
Lala : “kamu istirahat Cuma dikelas aja ? gak bosen Li ?”
Lili : “Gak, aku kan sudah bilang aku males.”
Tra : “Udah... kok jadi dipermasalahin sih.. ?!”
Tra belum menyadari kalau uangnnya hilang. Setelah dia membuka tasnya dan melihat dompetnya terbuka dia langsung kaget karena uangnya hilang.....
Tra : “Teman, uang aku hilang semua !”
Lala, Tri : “HILANG ?!?”
Tri : “Kamu lupa kali Tra. Coba cari Lagi.”
Tra : “Aku gak lupa tadi aku simpan disini uangnya. Kemana ya ?”
Lala : “Apa ada yang MENCURI uang kamu Tra !!?”
Tra : “Bisa jadi, kalau tidak ada yang mencuri gak mungkin uang aku hilang.”
Tri : “Siapa yang mencuri ya kok tega banget sih !!?”
Tra : “LI... ! Kok kamu diam saja sih ? Bantuan aku donk ! uang aku hilang nih !!
Lili : “Bukan Aku Tra yang mencuri !!”
Tra : “Siapa yang bilang kamu yang mencuri. Aku kan Cuma minta dibantuin cari.”
Tri : “Li.... kok kamu ngomong gitu ? bukannya aku nuduh kamu ya dari tadikan Cuma kamu yang ada dikelas ini sampai istirahat selesai.”
Lili : “Tapi bukan aku Tri yang ngambil uang Tra. Benar bukan. Aku kan sahabat Tra dan Kalian.”
Lala : (Jutek) “Biarpun kamu sahabat kita mungkin ajakan. Ya udah biar kita gak salah nuduh kita periksa tas kamu, Cuma membuktikan saja.”
Lili : “Jangan kumohon JANGAN !! Bukan aku yang ambil.”
Tiba-tiba Fauzia bicara dengan mereka.
Fauzia : “Hei... Sebelumnya aku minta maaf kalau aku ikut campur urusan kalian. Aku Cuma mau bilang tadi aku lihat Lili membuka tas kamu Tra dan mengambil sesuatu sepertinya ya.... UANG.”
Tra : “Kamu gak bohong kan Fauzia ?”
Fauzia : “Iya aku gak bohong aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Maafin aku Li, aku gak mau menutupi kejahatan. Jadi, aku ngomong apa yang aku lihat tadi.”
Lili : ”Fauzia.... aku sama sekali gak tau kalau tadi kamu melihat apa yang aku lakukan. Tra, memang aku yang mengambil uang kamu. Fauzia benar. Tapi aku terpaksa Tra !!! Aku bukan bermaksud Jahat.”
Tra : “Jadi... kamu Li yang ambil uang aku ! Ya ampun Li.... Aku gak nyangka banget !!! Kamu terpaksa kenapa ???”
Lili : “Aku terpaksa karna aku belum bayar uang SPP 3 bulan. Orang tua ku gak punya uang kan kamu tahu sendiri ayahku sedang sakit.”
Tra : “Tapi kamu gak harus seperti ini Li....”
Lala : “Iya Li kenapa kamu gak jujur ada sama kita. Kalau kamu jujur kita pasti akan bantu kamu.
Tri : “Bener banget !!! Jadi kamu dari tadi pagi sudah berbohong kamu bilang kamu lagi males aja ternyata kamu ada masalah ?”
Lili : “Tra, Lala, Lili aku menyesal udah gak jujur sama kalian. Aku seperti ini karna aku gak mau menyusahkan kalian terus. Aku minta maaf sama kalian. Terutama Tra.”
Tra : “Aku maafin kamu Li. Karena aku tahu kamu dalam keadaan terdesak melakukan semua ini.”
Lili : “Kamu memang sahabat aku yang paling baik Tra, aku sangat menyesal sekali.”
Lala : “Bagaimanapun seseorang sahabat dia tetap menjadi seorang sahabat !
Tri : “Kamu salah La... diralat ya ? Bagaimanapun kesalahan seorang sahabat kita harus memaafkannya karena manusia pasti membuat kesalahan dan tidak selalu benar. Jadi kita harus tetqap jadi sahabat sejati.”
Lili : “Makasih ya sahabat-sahabat ku kalian memang sahabat yang paling baik dan yang paling aku sayang . Makasih kalian sudah mau maafin aku dan masih mau jadi sahabat aku .
Tra, Lala, Tri : “IYA DONK HARUS !!!”
Tra : “ya udah Li Uangku untuk kamu saja karena aku tahu kamu sangat m embutuhkannnya daripada aku.”
Lili : “Benar Tra ? Makasih sekali lagi aki ucapkan untuk kamu sampai kapan pun juga aku gak akan melupakan kebaikan kamu.”
Tra : “Iya.... Li. Kamu makasih juga donk sama fauzia karena dia sudah buat kejujuran untuk kamu.”
Lili : “Fauzia, terima kasih ya... ? Atas kejujuran kamu !”
Fauzia : “Iya Li sama-sama.”
Tra : “Ya sudah kalau seperti ini kan jadinya enak. Tralalatrilili tidak hancur. Tra...”
Lala : “lala.....”
Tri : “Tri.....”
Lili : “lili.....”
Tralalatrilili : “YEEEEEEEEE.......”
TAMAT
Diposting oleh
Unknown
di
06.49
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
TOLERANSI
Tema drama: Sosial
Jumlah pemeran drama: 4 Orang Pemain
Karakter: 1. Dika sebagai Handoko, 2. Nuri sebagai Nikmah, 3. Hendy sebagai Dodi, 4. Imran sebagai Roni
Setelah keluar dari ruang kantor guru, Handoko terlihat sangat girang dan berlari-lari kesana kemari, pasalnya dia mendapat nilai Ujian Nasional yang bagus, sementara itu teman temannya juga mendapatkan nilai yang bagus juga.
Handoko : “Yes.. yes.., akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat bagus!”
Dodi : “Alhamdulillah kita berempat dapat lulus dengan nilai yang baik, ini berkat hasil belajar serius kita selama ini”
Nikmah : “Tentu saja, kita kan sudah mengorbankan banyak waktu demi belajar”
Handoko : “Roni! Kamu ngelamunin apa (sambil menepuk bahu Roni karena melamun terus)
Roni : “Teman-teman, kita kan sudah hampir lulus SMP nih, pastinyakan kita akan berpisah karena aku akan melanjutkan pendidikan ke SMA di luar kota”
Dodi : “Betul juga, aku juga akan melanjutkan pendidikan di luar pulau, bagaimana denganmu Nikmah?”
Nikmah : “Aku akan meneruskan ke pondok asrama di luar kota juga, jika kamu rencananya dimana Handoko?”
Handoko : “Aku akan meneruskannya di SMA Favorit kota ini yaitu SMA Tunas Bangsa, tidak terasa ya persahabatan kita yang kita rajut selama bertahun tahun sejak masih Taman Kanak Kanak hingga SMA harus terpencar sekaran”(Sambil memurungkan muka)
Dodi : “ Sudahlah ko, setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu terjDodi pada kita semua,marilah kita saling bermaaf maafan untuk menjaga tali silaturhami kita walaupun kita akan berpisah”
Kemudian empat remaja bersahabat itu saling memint maaf kepada sesama karena tidak lama lagi mereka akan berpisah untuk melanjutkan SMA di berbagai tempat yang berbeda.Tanpa disangka sangka Handoko menemukan ide secara mendadak
Handoko : “Oiya teman teman, bagaimana jika untuk merayakan kelulusan kita sekaligus mengenang persahabatan kita yang akan berpisah, akan aku traktir kalian semua makan baksonya Pak Somad.
Dodi : “Nanti seperti dulu lagi, setelah kita makan baksonya kamu kabur tunggang langgang,jDodi bayar sendiri deh (Mencibir Handoko)
Nikmah : “Iya Betul, nanti seperti kejDodian yang dulu”
Roni : “Untung yang dulu aku yang bayar, jika tidak bisa diomelin ama Pak Somad”
Handoko : “Hahaha, iya iya aku janji nanti akan kubayar semuanya,soal yang dulu maaf ya”
Dodi : “kalo kali ini aku percaya Handoko, tapi bener ya”
Handoko : “Iya, pastinya” (sambil memasamkan muka)
Roni : “Sudahlah, masalah itu bisa dibahas nanti, kawan kawan, marilah kita ikrarkan kata persahabatan untuk membuktikan arti persahabatan kita”
Handoko : “Ya, Ikrar ini kita hentakan untuk membuktikan bahwa persahabatan yang telah kita rajut selama bertahun tahun ini tetap bertahan walaupun kita akan berpisah”
Nikmah : “Ayo bentuk lingkaran dan ikrarkan Persahabatan”
Roni : “Ayo, 2..3..4..!! (Sambil menghitung)
Semuanya : Persahabatan
Setelah ikrar tersebut dihentakan bersama-sama oleh empat sekawan itu, perpisahanpun terjadi lima hari setelah peristiwa bersejarah bagi mereka berempat karena ikrar tersebut mempunyai makna yang sangat dalam.
Jumlah pemeran drama: 4 Orang Pemain
Karakter: 1. Dika sebagai Handoko, 2. Nuri sebagai Nikmah, 3. Hendy sebagai Dodi, 4. Imran sebagai Roni
Setelah keluar dari ruang kantor guru, Handoko terlihat sangat girang dan berlari-lari kesana kemari, pasalnya dia mendapat nilai Ujian Nasional yang bagus, sementara itu teman temannya juga mendapatkan nilai yang bagus juga.
Handoko : “Yes.. yes.., akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat bagus!”
Dodi : “Alhamdulillah kita berempat dapat lulus dengan nilai yang baik, ini berkat hasil belajar serius kita selama ini”
Nikmah : “Tentu saja, kita kan sudah mengorbankan banyak waktu demi belajar”
Handoko : “Roni! Kamu ngelamunin apa (sambil menepuk bahu Roni karena melamun terus)
Roni : “Teman-teman, kita kan sudah hampir lulus SMP nih, pastinyakan kita akan berpisah karena aku akan melanjutkan pendidikan ke SMA di luar kota”
Dodi : “Betul juga, aku juga akan melanjutkan pendidikan di luar pulau, bagaimana denganmu Nikmah?”
Nikmah : “Aku akan meneruskan ke pondok asrama di luar kota juga, jika kamu rencananya dimana Handoko?”
Handoko : “Aku akan meneruskannya di SMA Favorit kota ini yaitu SMA Tunas Bangsa, tidak terasa ya persahabatan kita yang kita rajut selama bertahun tahun sejak masih Taman Kanak Kanak hingga SMA harus terpencar sekaran”(Sambil memurungkan muka)
Dodi : “ Sudahlah ko, setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu terjDodi pada kita semua,marilah kita saling bermaaf maafan untuk menjaga tali silaturhami kita walaupun kita akan berpisah”
Kemudian empat remaja bersahabat itu saling memint maaf kepada sesama karena tidak lama lagi mereka akan berpisah untuk melanjutkan SMA di berbagai tempat yang berbeda.Tanpa disangka sangka Handoko menemukan ide secara mendadak
Handoko : “Oiya teman teman, bagaimana jika untuk merayakan kelulusan kita sekaligus mengenang persahabatan kita yang akan berpisah, akan aku traktir kalian semua makan baksonya Pak Somad.
Dodi : “Nanti seperti dulu lagi, setelah kita makan baksonya kamu kabur tunggang langgang,jDodi bayar sendiri deh (Mencibir Handoko)
Nikmah : “Iya Betul, nanti seperti kejDodian yang dulu”
Roni : “Untung yang dulu aku yang bayar, jika tidak bisa diomelin ama Pak Somad”
Handoko : “Hahaha, iya iya aku janji nanti akan kubayar semuanya,soal yang dulu maaf ya”
Dodi : “kalo kali ini aku percaya Handoko, tapi bener ya”
Handoko : “Iya, pastinya” (sambil memasamkan muka)
Roni : “Sudahlah, masalah itu bisa dibahas nanti, kawan kawan, marilah kita ikrarkan kata persahabatan untuk membuktikan arti persahabatan kita”
Handoko : “Ya, Ikrar ini kita hentakan untuk membuktikan bahwa persahabatan yang telah kita rajut selama bertahun tahun ini tetap bertahan walaupun kita akan berpisah”
Nikmah : “Ayo bentuk lingkaran dan ikrarkan Persahabatan”
Roni : “Ayo, 2..3..4..!! (Sambil menghitung)
Semuanya : Persahabatan
Setelah ikrar tersebut dihentakan bersama-sama oleh empat sekawan itu, perpisahanpun terjadi lima hari setelah peristiwa bersejarah bagi mereka berempat karena ikrar tersebut mempunyai makna yang sangat dalam.
Diposting oleh
Unknown
di
06.46
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Persahabatan
Pada suatu hari disebuah kantin
Hilmiah, Djuania dan Dennita sedang berada di kantin. Mereka sedang makan sambil bercerita. Tiba-tiba datanglah trio evil yang menyambar pembicaraan mereka.
Enie : Hello, kalian ! ngapain kalian disini ! (memukul meja)
Anisyah : Ini tuh tempat khusus buat kita ! jadi loh mendingan cabut sana !
Nenie : Bener tuh ! Loe, Loe dan Loe out! (menunjuk ke Hilmiah, Djuania dan Dennita)
Hilmiah : Apa hak kalian mengusir kami. Lagian inikan tempat umum. Bukan tempat bokap kalian !
Anisyah : Eeeh. Eeeh. Nih anak sudah mulai melawan yah ! Apa perlu saya panggilkan satpam untuk ngusir kalian!
Djuania : Ok, silahkan saja panggil satpam. Kalian pikir kami takut dengan kalian.
Enie : Keterlaluan kalian (hampir menampar Djuania, tapi tiba-tiba Dennita berbicara)
Dennita : Hey.. jangan. Sudahlah, Biar kami saja yang mengalah. Ayo kita pergi dari sini.
Hilmiah, Djuania dan Dennita pun pergi meninggalkan kantin.
Nenie : Akhirnya mereka pergi juga. Hahaha
Tidak lama berselang bel pun berbunyi. Semua murid mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang.
Seperti biasanya grup Sehat sering mengerjakan tugas di rumah Hilmiah. Jadi tiap sore Djuania dan Dennita datang kerumah Hilmiah. Orangtua mereka pun sudah saling mengenal satu sama lain.
Sore, dirumah Hilmiah
Djuania+Dennita : Assalamualaikum (mengetuk-ngetuk pintu)
Hilmiah : Waalaikumsalam (membuka pintu) silahkan masuk tuan putri (sambil mengulurkan tangannya kebawah)(sedang bercanda untuk menghibur mereka)
Hilmiah+Djuania+Dennita : hehehehehe
Mereka ber-3 menuju ke ruang tamu. Tempat dimana mereka sering mengerjakan tugas sambil berbagi cerita. Kali ini tugas yang dikerjakan oleh mereka ber-3 adalah tugas bahasa indonesia yaitu membuat proposal. Mereka lalu mengeluarkan buku dari tas. Tapi kali ini mereka tidak bisa menyelesaikannya karena ada keributan di samping rumah Hilmiah. Entah mengapa orang itu sangat ribut. Mungkin ada masalah di keluarga mereka.
Djuania : Aduh, berisik amat! Mana bisa kita selesaikan tugas ini kalau situasinya begini.
Dennita : Tetanggamu kenapa sih? Kok heboh amat!
Hilmiah : Aku juga nga tau nih. Nga biasa-biasanya mereka ribut seperti ini.
Mereka ber-3 keluar rumah untuk melihat situasi. Ternyata keributan itu datang pada rumah Anisyah. Diluar rumah Anisyah ada kelompok trio evil yang sedang kebingungan. Kelompok Sehat pun menuju ke rumah Anisyah.
Hilmiah : Anisyah, ada apa dengan kamu?
(Anisyah hanya nangis dan merunduk)
Enie : Ngapain loh kesini! Sudah pulang sana, mengganggu aja!
Nenie : Loh kok masih disini. Kalian budek ya! Kami bilang pergi dari sini ! ( dengan suara yang kejam)
Anisyah : Sudahlah, jangan husir mereka. Mereka kan teman kita juga.
Enie : Kamu kenapasih Anisyah? Kenapa mesti lo bela mereka?
Nenie : Anisyah, kamu habis kesambet batu yah ?
Anisyah : Sudahlah, hentikan semua kebodohan ini.
Enie : Maksudloh apasih? Gue nga mengerti dengan semua ini!
Nenie : Baiklah kalo ini mau kamu. Kami akan menurutinya.
Djuania : Kok kamu sedih sih Anisyah? Emengnya ada apa?
Anisyah : Aku tidak habis pikir. Kenapa sih orangtuaku selalunya bertengkar. Apa mereka tidak lelah dengan semua ini?
Dennita : Kamu yang sabar yah Anisyah.
Anisyah : Tapi aku sudah benar-benar tidak tahan lagi. Hampir setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar.
Hilmiah : Mungkin memang saat ini bapak dan ibumu sedang ada masalah. Berdoa sajalah, semoga masalah mereka segera bisa diatasi.
Enie : Kami pun akan turut berdoa agar orangtuamu tidak bertengkar lagi.
Anisyah : Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai. Seandainya mereka benar-benar bercerai, aku harus ikut siapa? aku malu, malu dan sangat malu sekali teman-teman.
Nenie : Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih nanti malah akan mempengaruhi fisikmu.
Hilmiah : Iya Anisyah. Semua ini pasti ada jalan keluarnya kok.
Anisyah : Ah biarlah, seandainya aku sakit, mungkin orang tuaku tidak peduli sama sekali.
Djuania : Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya.
Dennita : Mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi mereka terlihat sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Anisyah : Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah pasti mendengar suara mereka bertengkar?
Hilmiah : tapikan biar bagaimana pun juga dia tetap orangtuamu.
Anisyah : Saya harus bagaimana (sambil menunduk dan menangis)
Enie : sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar.
Anisyah : akan saya coba
Nenie : Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo donk tersenyum lagi (sambil mengusap air mata Anisyah)
Anisyah : terimakasih yah. Kalian sudah ingin menjadi temanku. Dan memberiku semangat dengan cobaan ini. Aku sayang kalian semua.
Hilmiah : kami juga sayang kok sama kamu.
Kesemua dari mereka lantas berpelukan antara satu sama lain.
Hilmiah, Djuania dan Dennita sedang berada di kantin. Mereka sedang makan sambil bercerita. Tiba-tiba datanglah trio evil yang menyambar pembicaraan mereka.
Enie : Hello, kalian ! ngapain kalian disini ! (memukul meja)
Anisyah : Ini tuh tempat khusus buat kita ! jadi loh mendingan cabut sana !
Nenie : Bener tuh ! Loe, Loe dan Loe out! (menunjuk ke Hilmiah, Djuania dan Dennita)
Hilmiah : Apa hak kalian mengusir kami. Lagian inikan tempat umum. Bukan tempat bokap kalian !
Anisyah : Eeeh. Eeeh. Nih anak sudah mulai melawan yah ! Apa perlu saya panggilkan satpam untuk ngusir kalian!
Djuania : Ok, silahkan saja panggil satpam. Kalian pikir kami takut dengan kalian.
Enie : Keterlaluan kalian (hampir menampar Djuania, tapi tiba-tiba Dennita berbicara)
Dennita : Hey.. jangan. Sudahlah, Biar kami saja yang mengalah. Ayo kita pergi dari sini.
Hilmiah, Djuania dan Dennita pun pergi meninggalkan kantin.
Nenie : Akhirnya mereka pergi juga. Hahaha
Tidak lama berselang bel pun berbunyi. Semua murid mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang.
Seperti biasanya grup Sehat sering mengerjakan tugas di rumah Hilmiah. Jadi tiap sore Djuania dan Dennita datang kerumah Hilmiah. Orangtua mereka pun sudah saling mengenal satu sama lain.
Sore, dirumah Hilmiah
Djuania+Dennita : Assalamualaikum (mengetuk-ngetuk pintu)
Hilmiah : Waalaikumsalam (membuka pintu) silahkan masuk tuan putri (sambil mengulurkan tangannya kebawah)(sedang bercanda untuk menghibur mereka)
Hilmiah+Djuania+Dennita : hehehehehe
Mereka ber-3 menuju ke ruang tamu. Tempat dimana mereka sering mengerjakan tugas sambil berbagi cerita. Kali ini tugas yang dikerjakan oleh mereka ber-3 adalah tugas bahasa indonesia yaitu membuat proposal. Mereka lalu mengeluarkan buku dari tas. Tapi kali ini mereka tidak bisa menyelesaikannya karena ada keributan di samping rumah Hilmiah. Entah mengapa orang itu sangat ribut. Mungkin ada masalah di keluarga mereka.
Djuania : Aduh, berisik amat! Mana bisa kita selesaikan tugas ini kalau situasinya begini.
Dennita : Tetanggamu kenapa sih? Kok heboh amat!
Hilmiah : Aku juga nga tau nih. Nga biasa-biasanya mereka ribut seperti ini.
Mereka ber-3 keluar rumah untuk melihat situasi. Ternyata keributan itu datang pada rumah Anisyah. Diluar rumah Anisyah ada kelompok trio evil yang sedang kebingungan. Kelompok Sehat pun menuju ke rumah Anisyah.
Hilmiah : Anisyah, ada apa dengan kamu?
(Anisyah hanya nangis dan merunduk)
Enie : Ngapain loh kesini! Sudah pulang sana, mengganggu aja!
Nenie : Loh kok masih disini. Kalian budek ya! Kami bilang pergi dari sini ! ( dengan suara yang kejam)
Anisyah : Sudahlah, jangan husir mereka. Mereka kan teman kita juga.
Enie : Kamu kenapasih Anisyah? Kenapa mesti lo bela mereka?
Nenie : Anisyah, kamu habis kesambet batu yah ?
Anisyah : Sudahlah, hentikan semua kebodohan ini.
Enie : Maksudloh apasih? Gue nga mengerti dengan semua ini!
Nenie : Baiklah kalo ini mau kamu. Kami akan menurutinya.
Djuania : Kok kamu sedih sih Anisyah? Emengnya ada apa?
Anisyah : Aku tidak habis pikir. Kenapa sih orangtuaku selalunya bertengkar. Apa mereka tidak lelah dengan semua ini?
Dennita : Kamu yang sabar yah Anisyah.
Anisyah : Tapi aku sudah benar-benar tidak tahan lagi. Hampir setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar.
Hilmiah : Mungkin memang saat ini bapak dan ibumu sedang ada masalah. Berdoa sajalah, semoga masalah mereka segera bisa diatasi.
Enie : Kami pun akan turut berdoa agar orangtuamu tidak bertengkar lagi.
Anisyah : Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai. Seandainya mereka benar-benar bercerai, aku harus ikut siapa? aku malu, malu dan sangat malu sekali teman-teman.
Nenie : Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih nanti malah akan mempengaruhi fisikmu.
Hilmiah : Iya Anisyah. Semua ini pasti ada jalan keluarnya kok.
Anisyah : Ah biarlah, seandainya aku sakit, mungkin orang tuaku tidak peduli sama sekali.
Djuania : Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya.
Dennita : Mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi mereka terlihat sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Anisyah : Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah pasti mendengar suara mereka bertengkar?
Hilmiah : tapikan biar bagaimana pun juga dia tetap orangtuamu.
Anisyah : Saya harus bagaimana (sambil menunduk dan menangis)
Enie : sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar.
Anisyah : akan saya coba
Nenie : Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo donk tersenyum lagi (sambil mengusap air mata Anisyah)
Anisyah : terimakasih yah. Kalian sudah ingin menjadi temanku. Dan memberiku semangat dengan cobaan ini. Aku sayang kalian semua.
Hilmiah : kami juga sayang kok sama kamu.
Kesemua dari mereka lantas berpelukan antara satu sama lain.
Diposting oleh
Unknown
di
06.40
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Indahnya Persahabatan
1. Tema : Indahnya Persahabatan
2. Ritme Cerita Drama:
a) Eksposisi
Tari
Mega
Joni
Heru
Liana
Danang
b) Permasalahan
Tari tidak bisa mengerjakan semua tugas yang diberikan kakaknya, Liana.
c) Komplikasi
Danang mementingkan mencoba game baru dan membatalkan bantuannya kepada Tari.
d) Catatan 1
Heru memergoki Danang sedang asyik bermain game di Mall.
e) Catatan 2
Mega dan Heru mengingatkan Danang agar menepati janjinya kepada Tari dan membantu teman yang membutuhkan pertolongan.
f) Kesimpulan
Danang pergi ke rumah Tari untuk meminta maaf dan segera membatunya.
3. Karakter
a. Prontagonis (baik) : Heru dan Mega
b. Antagonis (jahat) : Danang
c. Tritagonis : Joni dan Tari
d. Figuran : Liana
4. Latar
a. Tempat : Rumah Tari dan Mall
b. Waktu : Siang Hari
c. Sosial :Danang membaca review mengenai game baru di rumahnya dan ingin
segera mencoba game tersebut.
Naskah Drama
Seisi Rumah Tari nampak sibuk. Seminggu lagi Liana, kakak Tari akan menikah. Tari sedang libur sekolah, ia sedang bersantai di sofa saat Liana menghampirinya.
Liana : Tari, kamu libur ya?
Tari : Iya, kak. Kenapa?
Liana : Tolongin kakak bisa, dong?
Tari : Tolongin apa, kak?
Liana : Kebetulan kurir yang biasa nolongin kakak lagi sakit. Kamu bisa nggak bantuin ambil souvernir di mall, anterin sisa pembayaran catering di Gading Resto, ambilkan baju untuk pagar ayu di Budhe Ayu dan cek kesiapan gedung pernikahan kakak?
Tari : Hah? Banyak banget, kak. Itu harus selesai dalam sehari?
Liana : Iya nih, Tar. Tolongin kakak ya, please?
Tari : Ya udah deh.
Tari sedang berpikir keras bagaimana ia dapat melakukan tugas yang diberikan kakaknya, sementara jarak dari keempat tersebut saling berjauhan. Bersamaan dengan itu, Mega dan Heru datang ke rumah Tari.
Mega : Tar, kita ke toko buku, yuk! Kata Heru lagi ada diskon besar-besaran, loh!
Heru : Iya, Tar. Kemarin kamu kan mau cari novel terbarunya Alberthiene Endah, kan?
Tari : Wah, teman-teman, kayaknya aku nggak bisa ikut kalian deh. Aku harus bantuin Kak Lianan untuk mempersiapkan pernikahannya. Nih, aku harus ke semua tempat ini.
Tari menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan daftar permintaan tolong kakaknya.
Mega : Tar, kamu yakin bisa ke semua tempat ini? Semuanya kan saling berjauhan. Apa perlu kita bantu?
Heru : Bener tuh si Mega! Gimana kalo kita bantuin kamu? Aku telepon Danang dan Joni deh biar mereka juga bantuin kita.
Heru menelepon Danang terlebih dahulu.
Heru : Halo, Dan. Kamu bisa bantuin Tari nggak? Dia lagi bantuin persiapan nikahan kakaknya. Nah, kamu bisa kan tolong ambilkan souvernir di Mall. Dekat rumahmu kan?
Danang : Oke, bisa aja. Bentar lagi, ya. Ini masih repot.
Disisi lain, Danang sedang asyik membaca berita tentang tempat permainan baru di mall dekat rumahnya. Ia ingin segera mencoba game tersebut.
Danang : Kalo bantuin Tari berarti aku nggak bisa coba game baru. Tapi udah terlanjur bilang oke. Gimana ya? Ah, bohongin aja lah!
Danang mengirim pesan kepada Heru bahwa ia harus membantu ibunya dan tidak bisa membantu Tari.
Heru : Danang SMS, nih. Dia bilang mendadak harus bantu ibunya. Jadi kita bagi tugas berempat aja sama Joni. Aku sama Mega ke mall ambil souvernir, Joni ambil baju pagar ayu ke Budhe Ayu dan Tari ke Gading Resto dan cek kesiapan gedung, ya?
Tari : Wah, terima kasih teman-teman. Tanpa kalian aku pasti nggak bisa melakukan ini semua.
Mega : Sama-sama, Tar. Kita sebagai teman harus saling membantu dong! Persahabatan kita
kan sudah terjalin sejak sepuluh tahun lalu.
Heru dan Mega pergi ke mall untuk mengambil souvernir. Sesampainya di mall.
Mega : Her, coba kamu lihat anak yang pakai baju biru itu? Kok mirip Danang, ya?
Heru melihat kearah yang yang ditunjuk Mega. Seorang anak berbaju biru tampak asyik memainkan game di salah satu area permainan.
Heru : Loh, itu kan memang Danang. Yuk, kita samperin, Meg!
Mega dan Heru berjalan kearah Danang dan menepuk bahunya.
Heru : Hayo, katanya bantuin ibu? Kok malah mainan disini?
Mega : Iya parah kamu, Nang. Bisa main disini tapi bantuin Tari nggak mau. Dia kan sahabat kamu juga.
Danang memasang wajah kikuk dan menunduk bersalah.
Danang : Maaf deh, aku khilaf. Aku benar-benar ingin mencoba game ini, tetapi aku sudah terlanjur janji untuk membantu Tari. Akhirnya aku terpaksa bohong.
Mega : Kamu nggak tau betapa kerepotannya Tari, Nang.
Danang : Maaf....
Heru : Sudah, Nang. Jangan meminta maaf pada kami, tapi minta maaflah pada Tari. Mungkin dia sekarang masih di rumah, karena ketika hendak pergi, saudaranya dari luar kota datang dan ia harus menemuinya.
Danang : Aku ke rumah Tari sekarang, deh!
Mega : Eh, tunggu dulu! Bantuin kita bawa souvernir! Terus kita sama-sama ke rumah Tari.
Setelah selesai mengambil souvernir di mall. Danang, Heru dan Mega kembali ke rumah Tari dan
Joni sudah berada disana.
Tari : Loh, Danang? Katanya kamu bantu ibumu?
Joni : Lah iya, Nang? Kok cepet?
Heru : Alibinya dia aja, Tar. Aslinya asyik main game (Heru dan Mega tertawa)
Danang : Maaf ya, Tari. Tadi aku bohong sama kalian. Aku lebih mementingkan game dari pada bantu sahabatku sendiri.
Tari : Udah nggak apa-apa, Nang.
Danang : Ada yang bisa aku bantu, Tar?
Tari : Ada, dong! Cek kelengkapan gedung, bisa?
Danang : Bisa kok! Buat Tari apa sih yang nggak?!
Danang, Heru, Joni dan Mega tertawa.
Pada naskah drama diatas menceritakan tentang arti persahabatan dimana kita harus membantu sahabat yang membutuhkan bantuan. Dalam contoh naskah drama persahabatan diatas juga menggambar sifat manusia yang lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dibanding orang lain. Padahal, didalam persahabatan dibutuhkan rasa solidaritas untuk mempertahankan keutuhannya
2. Ritme Cerita Drama:
a) Eksposisi
Tari
Mega
Joni
Heru
Liana
Danang
b) Permasalahan
Tari tidak bisa mengerjakan semua tugas yang diberikan kakaknya, Liana.
c) Komplikasi
Danang mementingkan mencoba game baru dan membatalkan bantuannya kepada Tari.
d) Catatan 1
Heru memergoki Danang sedang asyik bermain game di Mall.
e) Catatan 2
Mega dan Heru mengingatkan Danang agar menepati janjinya kepada Tari dan membantu teman yang membutuhkan pertolongan.
f) Kesimpulan
Danang pergi ke rumah Tari untuk meminta maaf dan segera membatunya.
3. Karakter
a. Prontagonis (baik) : Heru dan Mega
b. Antagonis (jahat) : Danang
c. Tritagonis : Joni dan Tari
d. Figuran : Liana
4. Latar
a. Tempat : Rumah Tari dan Mall
b. Waktu : Siang Hari
c. Sosial :Danang membaca review mengenai game baru di rumahnya dan ingin
segera mencoba game tersebut.
Naskah Drama
Seisi Rumah Tari nampak sibuk. Seminggu lagi Liana, kakak Tari akan menikah. Tari sedang libur sekolah, ia sedang bersantai di sofa saat Liana menghampirinya.
Liana : Tari, kamu libur ya?
Tari : Iya, kak. Kenapa?
Liana : Tolongin kakak bisa, dong?
Tari : Tolongin apa, kak?
Liana : Kebetulan kurir yang biasa nolongin kakak lagi sakit. Kamu bisa nggak bantuin ambil souvernir di mall, anterin sisa pembayaran catering di Gading Resto, ambilkan baju untuk pagar ayu di Budhe Ayu dan cek kesiapan gedung pernikahan kakak?
Tari : Hah? Banyak banget, kak. Itu harus selesai dalam sehari?
Liana : Iya nih, Tar. Tolongin kakak ya, please?
Tari : Ya udah deh.
Tari sedang berpikir keras bagaimana ia dapat melakukan tugas yang diberikan kakaknya, sementara jarak dari keempat tersebut saling berjauhan. Bersamaan dengan itu, Mega dan Heru datang ke rumah Tari.
Mega : Tar, kita ke toko buku, yuk! Kata Heru lagi ada diskon besar-besaran, loh!
Heru : Iya, Tar. Kemarin kamu kan mau cari novel terbarunya Alberthiene Endah, kan?
Tari : Wah, teman-teman, kayaknya aku nggak bisa ikut kalian deh. Aku harus bantuin Kak Lianan untuk mempersiapkan pernikahannya. Nih, aku harus ke semua tempat ini.
Tari menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan daftar permintaan tolong kakaknya.
Mega : Tar, kamu yakin bisa ke semua tempat ini? Semuanya kan saling berjauhan. Apa perlu kita bantu?
Heru : Bener tuh si Mega! Gimana kalo kita bantuin kamu? Aku telepon Danang dan Joni deh biar mereka juga bantuin kita.
Heru menelepon Danang terlebih dahulu.
Heru : Halo, Dan. Kamu bisa bantuin Tari nggak? Dia lagi bantuin persiapan nikahan kakaknya. Nah, kamu bisa kan tolong ambilkan souvernir di Mall. Dekat rumahmu kan?
Danang : Oke, bisa aja. Bentar lagi, ya. Ini masih repot.
Disisi lain, Danang sedang asyik membaca berita tentang tempat permainan baru di mall dekat rumahnya. Ia ingin segera mencoba game tersebut.
Danang : Kalo bantuin Tari berarti aku nggak bisa coba game baru. Tapi udah terlanjur bilang oke. Gimana ya? Ah, bohongin aja lah!
Danang mengirim pesan kepada Heru bahwa ia harus membantu ibunya dan tidak bisa membantu Tari.
Heru : Danang SMS, nih. Dia bilang mendadak harus bantu ibunya. Jadi kita bagi tugas berempat aja sama Joni. Aku sama Mega ke mall ambil souvernir, Joni ambil baju pagar ayu ke Budhe Ayu dan Tari ke Gading Resto dan cek kesiapan gedung, ya?
Tari : Wah, terima kasih teman-teman. Tanpa kalian aku pasti nggak bisa melakukan ini semua.
Mega : Sama-sama, Tar. Kita sebagai teman harus saling membantu dong! Persahabatan kita
kan sudah terjalin sejak sepuluh tahun lalu.
Heru dan Mega pergi ke mall untuk mengambil souvernir. Sesampainya di mall.
Mega : Her, coba kamu lihat anak yang pakai baju biru itu? Kok mirip Danang, ya?
Heru melihat kearah yang yang ditunjuk Mega. Seorang anak berbaju biru tampak asyik memainkan game di salah satu area permainan.
Heru : Loh, itu kan memang Danang. Yuk, kita samperin, Meg!
Mega dan Heru berjalan kearah Danang dan menepuk bahunya.
Heru : Hayo, katanya bantuin ibu? Kok malah mainan disini?
Mega : Iya parah kamu, Nang. Bisa main disini tapi bantuin Tari nggak mau. Dia kan sahabat kamu juga.
Danang memasang wajah kikuk dan menunduk bersalah.
Danang : Maaf deh, aku khilaf. Aku benar-benar ingin mencoba game ini, tetapi aku sudah terlanjur janji untuk membantu Tari. Akhirnya aku terpaksa bohong.
Mega : Kamu nggak tau betapa kerepotannya Tari, Nang.
Danang : Maaf....
Heru : Sudah, Nang. Jangan meminta maaf pada kami, tapi minta maaflah pada Tari. Mungkin dia sekarang masih di rumah, karena ketika hendak pergi, saudaranya dari luar kota datang dan ia harus menemuinya.
Danang : Aku ke rumah Tari sekarang, deh!
Mega : Eh, tunggu dulu! Bantuin kita bawa souvernir! Terus kita sama-sama ke rumah Tari.
Setelah selesai mengambil souvernir di mall. Danang, Heru dan Mega kembali ke rumah Tari dan
Joni sudah berada disana.
Tari : Loh, Danang? Katanya kamu bantu ibumu?
Joni : Lah iya, Nang? Kok cepet?
Heru : Alibinya dia aja, Tar. Aslinya asyik main game (Heru dan Mega tertawa)
Danang : Maaf ya, Tari. Tadi aku bohong sama kalian. Aku lebih mementingkan game dari pada bantu sahabatku sendiri.
Tari : Udah nggak apa-apa, Nang.
Danang : Ada yang bisa aku bantu, Tar?
Tari : Ada, dong! Cek kelengkapan gedung, bisa?
Danang : Bisa kok! Buat Tari apa sih yang nggak?!
Danang, Heru, Joni dan Mega tertawa.
Pada naskah drama diatas menceritakan tentang arti persahabatan dimana kita harus membantu sahabat yang membutuhkan bantuan. Dalam contoh naskah drama persahabatan diatas juga menggambar sifat manusia yang lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dibanding orang lain. Padahal, didalam persahabatan dibutuhkan rasa solidaritas untuk mempertahankan keutuhannya
Diposting oleh
Unknown
di
06.14
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook